Rabu, 25 Oktober 2017

PROFESI KEGURUAN: Rumusan Kode Etik Guru menurut Berbagai Ulama Islam (Semester1)



Nama   : Risma Nur Izzati
Kelas   : PGMI-1A
NIM    : 17205153002


 
 



Rumusan Kode Etik Guru menurut Berbagai Ulama Islam
A.      Kode Etik Guru menurut K.H.M. Hasyim Asy’ari
K.H. Hasyim Asy’ari mengarang sebuah buku yang sangat terkenal yang berjudul Adab al-‘Alim wa al-Muta’alim, yang jika diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia berarti ‘Etika Pengajar dan Etika Pelajar’. Yang isinya antara lain sebagai berikut:
a.    Etika Guru terhadap dirinya sendiri
1.        Agar selalu istiqomah dalam muraqobah kepada Allah SWT.
2.        Senantiasa berlaku Khauf (takut kepada Allah) dalam segala ucapan dan tindakan.
3.        Senantiasa bersikap tenang.
4.        Senantiasa bersikap wara’ (meninggalkan perkara syubhat dan meninggalkan perkara yang tidak bermanfaat).
5.        Selalu bersikaf tawadlu’ (merendahkan diri terhadap mahluk dan melembutkan diri kepada mereka, atau patuh kepada kebenaran, dan tidak berpaling kepada hikmah, hukum dan kebijaksanaan).
6.        Selalu khusyu’ kepada Allah SWT.
7.        Menjadikan Allah sebagai tempat meminta pertolongan dalam segala keadaan.
8.        Tidak menjadikan ilmunya sebagai tangga untuk mencapai keuntungan duniawi.
9.        Tidak diskriminatif terhadap murid.
10.    Bersikap zuhud dalam urusan dunia sebatas apa yang ia butuhkan.
11.    Menjauhkan diri dari tempat yang rendah dan hina menurut manusia.
12.    Menjauhkan diri dari tempat-tempat kotor dan maksiat.
13.    Agar selalu menjaga siar-siar islam dan zahir-zahir hukum, seperti shalat berjamaan di masjid.
14.    Menegakkan sunnah-sunnah dan menghapus segala hal yang mengandung unsur bid’ah.
15.    Membiasakan melakukan hal sunnah yang bersifat syari’at.
16.    Bergaul dengan ahlak yang baik.
17.    Membersihkan hati dan tindakannya dari akhlak yang jelek dan dilanjutkan dengan perbuatan yang baik.
18.    Senantiasa bersemangat untuk mengembangkan ilmu dan bersungguh-sungguh dalam setiap aktivitas ibadah.
19.    Tidak boleh membeda-bedakan status, nasab, dan usia dalam mengambil hikmah dari semua orang.
20.    Membiasakan diri untuk menyusun atau merangkum.
b.   Etika Guru ketika akan berangkat ke ruangan (majlis ilm)
1.         Mensucikan dirinya dari hadas dan kotoran.
2.         Memakai harum-haruman.
3.         Memakai pakaian yang layak sesuai dengan mode zamannya dengan  maksud untuk mengagungkan ilmu dan menghormati syariat.
4.         Berniat menyebarkan ilmu untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dan menegakkan agama Allah serta menyampaikan hukum-hukum Allah.
5.         Berniat untuk menunjukkan kebenaran dan kembali kepada kebajikan.
6.         Berkumpul bersama untuk berzikir kepada Allah SWT.
7.         Menyebarkan kedamaian kepada kawan-kawan muslimin.
8.         Mendo’akan ulama terdahulu.
c.    Etika Guru saat masuk ruangan (majlis ilm)
1.        Mengucapkan salam dengan tenang, tawadlu, serta khusu’.
2.        Duduk di tempat yang bisa dilihat oleh semua murid.
3.        Bersikap lemah lembut kepada yang lain dan menghormati dengan tutur kata yang lembut, wajah berseri dan hormat.
d.   Etika Guru saat memulai Mengajar
1.        Memulai belajar dengan membaca ayat Al-Qur’an untuk mencari barokah.
2.        Mendahulukan materi yang dianggap penting, dan tidak memperpanjang pelajaran sehingga membosankan atau meringkasnya.
3.        Jangan mengeraskan suara secara berlebihan atau memelankannya sehingga tidak terdengar, namun sebaiknya suara itu tidak melebihi majelis.
4.        Menjaga majelis dari kesalahan.
5.        Menekankan agar tidak membahas secara berlebihan atau menunjukkan tata krama yang jelek ketika membahas suatu pelajaran.
B.       Kode etik Guru menurut K.H. Ahmad Dahlan
K.H. Ahmad Dahlan juga menuangkan fikirannya mengenai Kode etik yang musti dimiliki oleh seorang guru yang. Pemikirannya ini dituangkan kedalam buku Pedoman Guru. Beliau menyatakan bahwa serang guru pada hakikatnya tidak dapat melepaskan diri dari beberapa aspek, antara lain:
a.      Fungsi Guru
1.        Sebagai Mahluk Allah swt. dan sebagai manusia muslim yang memiliki tanggung jawab penuh menunaikan amanat Allah swt.
2.        Sebagai warga negara yang memiliki tanggung jawab untuk menunaikan prinsip-prinsip Garis-garis Besar Satuan Negara (GBHN) dalam menjalankan tugas profesinya.
3.        Sebagai pegawai instansi dan persyarikatan (organisasi) yang bertanggung jawab atas prinsip sumpah dan janji jabatannya.
4.        Sebagai guru mata pelajaran yang dipercayakan kepadanya yang memiliki fungsi sebagai penanggung jawab kurikuler.
Semua hal diatas menerangkan bahwa pada umumnya guru itu mempunyai tanggung jawab untuk menunaikan amanat vertikal (kepada Allah swt.) dan Horizontal (kepada manusia).
1.    Syarat-syarat Guru
1.        Muslim.
2.        Mempunyai kemampuan dan kecakapan yang diperlukan.
3.        Anggota/calon anggota/simpatisan organisasi (muhammadiyah atau aisyiyah).
4.        Loyal terhadap persyarikatan dan perguruan.
5.        Berjanji untuk memenuhi persyaratan khusus yang dimufakati bersama antara yang bersangkutan dengan bagian pendidikan dan pengajaran.
Diantara kelima syarat tersebut, syarat kemampuan menjadi perhatian yang istimewa. Syarat kemampuan dirinci sebagai berikut:
1.        Menguasai bahan:
a)    Menguasai bahan bidang studi dalam kurikulum sekolah.
b)    Menguasai bahan pendalaman/aplikasi bidang studi.
2.        Menguasai program belajar:
a)    Merumuskan tujuan instruksional
b)    Mengenal dan dapat menggunakan metode mengajar.
c)    Memilih dan menyusun prosedur instruksional yang tepat.
d)   Melaksanakan program mengajar dan belajar.
e)    Mengenal kemapuan anak didik.
f)     Merencakan dan melaksanakan pengajaran remedial.
3.        Mengelola kelas:
a)    Mengatur tata ruang kelas untuk pengajaran.
b)    Menciptakan iklim belajar mengajar yang serasi.
4.        Menggunakan media dan sumber.
a)    Mengenal dan memilih serta menggunakan sumber.
b)    Menggunakan alat-alat bantu pelajaran yang sederhana.
c)    Menggunakan dan mengelola laboratorium dalam rangka proses belajar mengajar.
d)   Mengembangkan laboratorium.
e)    Menggunakan perpustakaan dalam proses belajar mengajar.
5.        Menguasai landasan-landasan kependidikan.
6.        Mengelola interaksi belajar mengajar.
7.        Menilai prestasi siswa untuk kependidikan dan pengajaran.
8.        Menguasai fungsi dan program dan bimbingan di sekolah:
a)    Menguasai fungsi dan layanan dan bimbingan di sekolah.
b)    Menyelenggarakan program layanan dan bimbingan di sekolah.
9.        Mengenal dan menyelenggarakan administrasi sekolah:
a)    Mengenal penyelenggaraan administrasi sekolah.
b)    Menyelenggarakan administrasi sekolah.
10.    Memahami prinsip-prinsip dan menafsirkan hasil-hasil penelitian pendidikan guna keperluan pengajaran.
Dari beberapa aspek diatas dapat diketahui kalau untuk menjadi guru itu tidak hanya sekedar berbekal ilmu saja tetapi juga harus dibekali dengan akhlak yang terpuji juga, sehingga guru tersebut yang dapat menjadi teladan bagi siswa-siswinya. Karena penilaian positif dari para peserta didik merupakan aspek penting dalam menentukan suatu keberhasilan didalam suatu proses pendidikan.

C.      Kode Etik Guru menurut K.H. Imam Zarkasyi
Menurut K.H. Imam Zarkasyi tugas guru itu sangat penting, maka guru harus memiliki sifat khusus yang memungkinkan pelaksanaan tugasnya dengan cara sebaik mungkin, sifat itu bertalian dengan fisik, intelektual dan moral, yaitu :
1.        Mempunyai akhlak yang mulia dan bebas dari perbuatan buruk
2.        Mempunyai niat dengan penuh keikhlasan dalam pekerjaannya dan bersungguh-sungguh dalam tugasnya.
3.        Sehat badan, kuat jasmani dan pikirannya.
4.        Suci dari cacat badan yang merendahkan (martabat guru)
5.        Mengetahui dasar pendidikan dan metode mengajar.
6.        Mengetahui ilmu jiwa (psikologi)
7.        Penuh bacaan dengan berbagai refrensi/literatur, sehingga menjadikannya orang yang menguasai materi.
8.        Cakap dalam memilih materi yang terpercaya kebenarannya, relevan dengan zaman dan kemampuan murid.
9.        Cakap dalam menyusun materi secara logis dan tertulis dalam buku persiapan mengajar.
10.    Mampu mentransformasi pengetahuan kepada pikiran murid dan sekaligus pemahamannya.
11.    Bersungguh-sungguh dalam pekerjaannya, senang dan giat dalam melaksanakan tugasnya.
12.    Berair muka yang jernih (tidak murung dan kerut) dengan penuh kasih sayang dan baik dalam perlakuannya.
13.    Mempunyai persiapan dan kesiapan dalam tugasnya dan cakap dalam membangkitkan murid dengan penuh kasih sayang.
14.    Mampu membangkitkan kreatifitas murid dengan berbagai ilmu dan seni.
15.    Mampu memberikan kerinduan murid dalam pelajaran.
16.    Mampu dalam menguasai kelas dan dapat menjalin jalinan rohani (psikolgis) antara mudarris dan murid.
17.    Bertindak bijaksana dan adil dalam melakukan hukuman/sanksi terhadap murid.
18.    Matanya harus selalu awas, penuh perhatian dan cukup keberanian.
19.    Bersifat sabar, penuh kasih sayang terhadap murid.
20.    Suaranya harus jelas dan terang, berwibawa dan membekas dalam jiwa.
21.    Mengerti tujuan masing-masing pelajaran dan mengetahui pokok-pokok penting dalam pelajaran.
22.    Mejaga kebersihan badan dan pakaiannya.
Beliau juga memberikan Metodologi-psikologis dan motivasi kejiwaan kepada guru yang akan melaksanakan tugas mendidik dan mengajar yaitu :
1.    Niat mengajar.
2.    Mendidik dan mengajar adalah realisasi dari mujahadah yaitu mau bersusah payah memikirkan kebaikan, bukan enaknya.
3.    Belajar dihadapan murid tak akan kurang penting (berarti) dengan belajar dihadapan guru
4.    Seorang guru dalan professor pada mata pelajaran masing-masing. Untuk itu diperlukan persiapan mengajar tertulis, yang matang dan banyak (konfrehensif).
5.    Metode lebih penting dari materi, akan tetapi eksistensi guru itu lebih penting dari pada metode, dan jiwa guru jauh lebih penting dari wujud guru itu sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar