PEMBENTUKAN KEPRIBADIAN MUSLIM
ARTIKEL
Untuk
Memenuhi Tugas Mata Kuliah
Filsafat
Pendidikan Islam
Yang
dibina oleh Mochammad Sinung Restendy, M.Pd.I.
Disusun
Oleh:
Kelompok
6
1.
Risma Nur Izzati (17205153002)
2.
Nurul Lailatul Nikmah (17205153026)
3.
Ana Nur Khumairoh (17205153036)
4.
Amala Zain Intan Jadidah (17205153044)
5.
Siti Nur Aisyah Azzahro (17205153046)
JURUSAN PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI
TULUNGAGUNG
Oktober 2016
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI
TULUNGAGUNG
Oktober 2016
ABSTRAK
Kepribadian muslim merupakan tujuan akhir dari setiap usaha pendidikan
islam. Dalam hal ini, kepribadian yang diharapkan islam adalah kepribadian yang
sesuai dengan norma-norma islam. Kepribadian bukan terjadi secara
serta merta akan tetapi terbentuk melalui proses kehidupan yang panjang. Dalam proses pembentukannyapun berlangsung secara
bertahap dan saling berkesinambungan. Oleh karena itu banyak faktor yang
ikut ambil bagian dalam membentuk kepribadian muslim tersebut diantaranya faktor biologis, faktor sosial, dan
faktor budaya. Kepribadian muslim diartikan sebagai identitas yang dimiliki oleh
seseorang sebagai ciri khas dari keseluruhan tingkah laku sebagai muslim yang
baik yang ditampilkan sebagai tingkah laku lahiriah maupun sikap batiniahnya.
Di satu sisi kepribadian itu mempunyai ciri khas yang bersifat individual
yang berbeda dengan yang lainnya dan di pihak lain individu diharapkan dapat
menampilkan kepribadian yang integral dalam kelompok masyarakat muslim sebagai
ummah. Pembentukan kepribadian muslim salah satunya bertujuan agar seorang
muslim mampu mengendalikan hawa nafsu yang ada pada dirinya.
PENDAHULUAN
Di era modern ini banyak yang mengaku sebagai orang islam tapi dalam kepribadiannya
tidak mencerminkan sebagai seorang muslim. Kepribadian muslim adalah
seperti yang digambarkan oleh
Al-qur’an tentang tujuan yang telah dikirimkan
oleh Rasulullah Muhammad saw. kepada umatnya, yakni menjadi ‘rahmatan
lil alamin’ atau menjadi rahmat
bagi seluruh alam. Maka dalam hal ini, seseorang yang
telah mengaku muslim seharusnya memiliki kepribadian sebagai sosok yang selalu
dapat memberi rahmat dan
kebahagiaan kepada siapa dan apapun di lingkungannya. Baik itu berupa ketaatan
dalam mejalankan ajaran agama, tawadhu, suka membantu, memiliki sifat kasih
sayang tidak suka menipu, tidak suka mengambil hak orang lain, tidak suka mengganggu, tidak suka menyakiti orang
lain, dan lain sebagainya.
Tak dapat kita pungkiri bahwa sekarang ini
persepsi atau gambaran
masyarakat khususnya mengenai pribadi muslim memang berbeda-beda. Bahkan banyak
yang pemahamannya sempit sehingga seolah-olah pribadi muslim itu tercermin pada
orang yang hanya rajin menjalankan Islam dari aspek ubudiyahnya saja. Padahal itu hanyalah satu aspek
saja dan masih banyak aspek lain yang harus melekat pada pribadi seorang
muslim. Oleh karena itu standar pribadi muslim yang berdasarkan Al-qur’an dan As-sunnah merupakan sesuatu yang
harus dirumuskan sehingga dapat dijadikan sebagai acuan dalam pembentukan
kepribadian muslim yang sesungguhnya.
PEMBAHASAN
A. Pengertian Kepribadian Muslim
1.
Kepribadian
Secara etimologi, kepribadian berasal dari kata “pribadi” yang berarti diri
sendiri, atau perseorangan. Sedangkan dalam bahasa inggris digunakan istilah ‘personality’,
yang berarti kumpulan kualitas jasmani, rohani, dan susila yang membedakan
seseorang dengan orang lain.
Secara terminologi menurut
Allport, kepribadian adalah organisasi sistem jiwa raga yang dinamis dalam diri
individu yang menentukan penyesuaian dirinya yang unik terhadap lingkungannya. Carl
Gustav Jung juga mengatakan bahwa kepribadian merupakan wujud pernyataan
kejiwaan yang ditampilkan seseorang dalam kehidupannya.[1]
Dengan demikian untuk menetapkan apakah
kepribadian seseorang itu baik, buruk, kuat, lemah, beradab atau biadab
sepenuhnya ditentukan oleh faktor yang mempenggaruhi dalam pengalaman hidup
seseorang tersebut. Dalam hal ini pendidikan sangat besar penanamannya untuk
membentuk kepribadian manusia itu.[2]
Kepribadian secara utuh hanya mungkin dibentuk melalui pengaruh lingkungan,
khususnya pendidikan. Adapun sasaran yang dituju dalam pembentukan kepribadian
ini adalah kepribadian yang dimiliki akhlak yang mulia. Tingkat kemuliaan
akhlak erat kaitannya dengan tingkat keimanan. Sebab Rasulullah saw. bahwa mengemukakan orang mukmin
yang paling sempurna imannya adalah orang mukmin yang paling baik akhlaknya.[3]
2.
Muslim
Seseorang yang islam disebut muslim. Muslim adalah orang atau seseorang
yang menyerahkan dirinya secara sungguh-sungguh kepada Allah. Jadi, dapat
dijelaskan bahwa wujud pribadi muslim itu adalah manusia yang mengabdikan
dirinya kepada Allah, tunduk dan patuh serta ikhlas dalam amal perbuatannya,
karena iman kepada-Nya. Pola sesorang yang beriman kepada Tuhan, selain berbuat
kebajikan yang diperintahkan adalah membentuk keselarasan dan keterpaduan
antara faktor iman, islam dan ikhsan.
Orang yang dapat dengan benar melaksanakan aktivitas hidupnya seperti
mendirikan shalat, menunaikan zakat, orang-orang yang menepati janjinya apabila
ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan penderitaan dan
peperangan maka mereka disebut sebagai muslim yang takwa, dan dinyatakan
sebagai orang yang benar. Hal ini merupakan pola takwa sebagai gambaran dari
kepribadian yang hendak diwujudkan pada manusia islam. Apakah pola ini dapat
“mewujud” atau “mempribadi” dalam diri seseorang, sehingga nampak perbedaannya
dengan orang lain, karena takwanya, maka itulah yang dikatakan sebagai
seseorang yang mempunyai “Kepribadian Muslim”.
3.
Kepribadian Muslim
Secara terminologi kepribadian muslim memiliki arti serangkaian perilaku normatif
manusia, baik sebagai makhluk individu maupun makhluk sosial yang normanya
diturunkan dari ajaran islam dan bersumber dari Al-qur’an dan As-sunnah.[4]
Kepribadian muslim dalam konteks ini dapat
diartikan sebagai identitas yang dimiliki seseorang sebagai ciri khas
bagi keseluruhan tingkah laku sebagai muslim, baik yang disampaikan dalam
tingkah laku secara lahiriyah maupun sikap batinnya.
B.
Aspek-aspek Pembentuk Kepribadian Muslim
Pembentukan kepribadian muslim
secara menyeluruh meliputi beberapa aspek yakni:
1.
Aspek idiil
(dasar) yang berasal dari landasan pemikiran yang bersumber dari ajaran wahyu.
2.
Aspek materiil
(bahan) yang berupa pedoman dan materi ajaran yang terangkum dalam materi bagi
pembentukan akhlak karimah.
3.
Aspek sosial
yang menitik beratkan pada hubungan yang baik antara sesama makhluk, khususnya
sesama manusia.
4.
Aspek teologi
yakni pembentukan kepribadian muslim ditujukan pada pembentukan nilai-nilai
tauhid sebagai upaya untuk menjadikan kemampuan diri sebagai pengabdi Allah
yang setia.
5.
Aspek duratife
(waktu) yakni pembentukan kepribadian Muslim dilakukan sejak lahir hingga
meninggal dunia.
6.
Aspek
dimensional yakni pembentukan kepribadian Muslim yang didasarkan atas
penghargaan terhadap faktor-faktor bawaan yang berbeda (perbedaan individu).
7.
Aspek fitrah
manusia yaitu pembentukan kepribadian Muslim meliputi bimbingan terhadap
peningkatan dan pengembangan kemampuan jasmani, rohani dan ruh.[5]
Sedangkan menurut Syaikh Hasan al-Banna ada 10
aspek yang dapat membentuk kepribadian muslim diantaranya:
1.
Bersihnya
akidah
2.
Lurusnya ibadah
3.
Kukuhnya akhlak
4.
Mampu mencari
penghidupan
5.
Luasnya wawasan
berfikir
6.
Kuat fisiknya
7.
Teratur
urusannya
8.
Perjuangan diri
sendiri
9.
Memperhatikan
waktunya
10. Bermanfaat bagi orang lain.[6]
Disini terlihat bahwa ada
dua sisi penting dalam pembentukan kepribadian muslim, yaitu iman dan akhlak.
Bila iman dianggap sebagai konsep batin, maka batin adalah implikasi dari
konsep itu yang tampilanya tercermin dalam sikap perilaku sehari-hari. Keimanan
merupakan sisi abstrak dari kepatuhan kepada hukum-hukum Tuhan yang ditampilkan
dalam lakon akhlak mulia. Untuk itu
pembentukan kepribadian muslim harus berlandaskan Al-qur’an dan As-sunnah nabi
sebagai identitas kemuslimannya.
C.
Faktor-faktor Pembentuk Kepribadian Muslim
Secara garis besar ada dua faktor
dalam pembentukan kepribadian muslim. Dua faktor tersebut diantaranya adalah
sebagai berikut:
1.
Faktor Biologis
Faktor ini berasal dari keturunan atau pembawaan
yang dibawa sejak lahir yang mempengaruhi peranan pada beberapa unsur
kepribadian dan mempengaruhi tingkah laku seseorang.
2.
Faktor Sosial
Yang dimaksud dengan faktor sosial disini adalah
masyarakat, yakni manusia lain di sekitar individu yang mempengaruhi individu
yang bersangkutan. Termasuk di dalamnya adat istiadat peraturan yang berlaku
dan bahasa yang digerakkan. Sejak anak dilahirkan mereka sudah mulai bergaul
dengan orang sekitar. Pertama-tama dengan keluarga. Keluarga sebagai salah satu
faktor sosial yang mempunyai posisi terdepan dalam memberikan pengaruh terhadap
pembentukan kepribadian anak. Bagaimanapun juga keluarga terutama orang tua
adalah pembina pribadi pertama dalam hidup manusia sebelum mereka mengenal
dunia luar. Disamping keluarga, sekolah juga mempengaruhi pembentukan
kepribadian anak. Bahkan sekolah dianggap sebagai faktor terpenting setelah
keluarga, sekolah merupakan jenjang kedua dalam pembentukan kepribadian muslim.
Selain keluarga dan sekolah, pastinya seseorang juga tidak dapat dilepaskan
dari yang namanya masyarakat. Kepribadian yang dimiliki oleh masing-masing
individu di masyarakat pastinya berbeda, disinilah kita sebagai seorang muslim
dituntut untuk selektif dalam memilih kepribadian mana yang patut kita tiru dan
kita hindari dari masingmasing kepribadian yang ada pada masyarakat di sekitar
kita.
3.
Faktor Kebudayaan
Sebenarnya faktor kebudayaan ini juga merupakan
bagian dari faktor sosial. Karena kebudayaan sendiri tumbuh dan berkembang
dalam masyarakat. Perkembangan dan pembentukan kepribadian pada masing-masing
orang tidak dapat dipisahkan dari kebudayaan masyarakat dimana seseorang
dibesarkan. Karena setiap kebudayaan mempunyai nilai yang harus dijunjung
tinggi oleh manusia yang hidup dalam kebudayaan tersebut. Mentaati dan mematuhi
nilai dalam kebudayaan itu menjadi kewajiban bagi setiap anggota masyarakat.[7]
Dari uraian diatas dapat
disimpulkan bahwa kepribadian seorang muslim tumbuh dan berkembang atas dua
kekuatan yakni kekuatan dari dalam yang berupa faktor biologis dan kekuatan
dari luar yang berupa faktor sosial dan faktor kebudayaan.
D. Tujuan
Pembentukan Kepribadian Muslim
Menjadi diri sendiri harus dimulai dari nalar
berpikir kearah mana tujuan hidup individu selama dia hidup. Adapun tujuan yang diinginkan dalam membentuk
kepribadian yaitu:
1.
Membentuk sikap
disiplin terhadap waktu
2.
Mampu
mengendalikan hawa nafsu
3.
Memelihara diri
dari perilaku menyimpang
4.
Mengarahkan
hidup menuju kepada kebaikan dan tingkah laku yang benar
5.
Mempelajari perubahan-perubahan
dalam gaya hidup
6.
Meningkatkan
pengertian diri, nilai-nilai diri, kebutuhan diri, agar dapat membantu
orang lain melakukan hal yang sama
7.
Mengembangkan
perasaan harga diri dan percaya diri melalui aspek dukungan dan tanggung
jawab yang bersifat timbal balik.[8]
E.
Macam-macam Kepribadian Muslim
1.
Kepribadian Kemanusiaan (Basyariah)
a.
Kepribadian
individu
Kepribadian individu meliputi ciri khas seseorang dalam
bentuk sikap dan tingkah laku serta intelektual yang dimiliki masing-masing
secara khas sehingga ia berbeda dengan orang lain. Menurut pandangan Islam manusia memang mempunyai dan memiliki potensi yang
berbeda yang meliputi aspek fisik dan psikis. Hal ini sesuai dengan firman Allah di dalam surah
Al-isra’ ayat 21 yang artinya: “Perhatikanlah bagaimana Kami
lebihkan sebagian dari mereka
atas sebagian (yang lain). Dan pasti kehidupan akhirat lebih tinggi
tingkatnya dan lebih besar keutamaannya”.
b.
Kepribadian
Ummah
Kepribadian ummah merupakan kepribadian yang
meliputi ciri khas kepribadian muslim sebagai suatu ummah (bangsa/negara)
muslim yang meliputi sikap dan tingkah laku ummah muslim yang berbeda dengan
ummah lainnya, mempunyai ciri khas kelompok dan memiliki kemampuan untuk
mempertahankan identitas tersebut dari pengaruh luar, baik ideologi maupun
lainnya yang dapat memberi dampak negatif. Allah
swt. berfirman di dalam surah Al-hujurat ayat 13 yang artinya: “Kami jadikan kamu bersuku-suku dan berbangsa supaya
saling kenal-mengenal….”.[9]
2.
Kepribadian Samaai (Kewahyuan)
Kepribadian
samaai merupakan corak kepribadian yang dibentuk melalui petunjuk wahyu dalam
kitab suci Al-qur’an. Allah swt. berfirman di dalam
surah Al-an’am ayat 153 yang artinya: “dan bahwa (yang Kami perintahkan)
ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti
jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari
jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah”. Kepribadian
muslim sebagai individu dan sebagai ummah, terintergrasi dalam bentuk suatu
pola yang sama. Dalam hal ini dasar teori kepribadian muslim, baik
sebagai individu maupun sebagai suatu ummah yang satu, terjadi suatu bentuk
dikotomi yang terintegrasikan. Dikotomi terletak hanya dalam pembagian saja,
namun dalam dasar yang sama (Filsafat pendidikan Islam yang bersumberkan
Al-Qur’an dan Hadits), serta tujuan yang satu yaitu menjadi pengabdi Allah Swt
yang taat. Pengintegrasian kepribadian
perseorangan dan ummah belum dapat menjamin terwujudnya perilaku mulia sesuai
dengan tuntutan hidup dunia ukhrawi. Oleh karena itu diperlukan kepribadian
samawi atau Islami dimana nilai-nilai Ketuhanan yang positif dan konstruktif
yang berorientasi kepada kesejahteraan dan kebahagiaan di dunia dan di akhirat.
Di sinilah nampaknya perbedaan pandangan antara teori kepribadian Barat dengan
teori kepribadian nuslim. Mungkin hal ini disebabkan oleh falsafah yang dianut masing-masing berbeda,
sehingga perbedaan dasar menyebabkan
terjadinya perbedaan pandangan.[10]
F. Karakteristik
Seseorang yang Berkepribadian Muslim
Ada beberapa karakteristik yang harus dipenuhi seseorang sehingga ia dapat
disebut berkepribadian muslim, yaitu :
1.
Salimul ‘Aqidah/ ‘Aqidatus Salima (aqidah yang lurus/selamat)
Salimul aqidah merupakan sesuatu yang harus ada pada setiap muslim. Dengan aqidah yang lurus, seorang muslim akan memiliki ikatan yang kuat kepada Allah swt. dan tidak akan menyimpang dari jalan serta ketentuan-ketentuan-Nya. Dengan kelurusan dan kemantapan aqidah, seorang muslim akan menyerahkan segala perbuatannya kepada Allah sebagaimana firman-Nya di dalam surah Al-an’am yang artinya: “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku, semua bagi Allah tuhan semesta alam”. Karena aqidah yang lurus/selamat merupakan dasar ajaran tauhid, maka dalam awal da’wahnya kepada para sahabat di Mekkah, Rasulullah saw. mengutamakan pembinaan aqidah, iman, dan tauhid.
Salimul aqidah merupakan sesuatu yang harus ada pada setiap muslim. Dengan aqidah yang lurus, seorang muslim akan memiliki ikatan yang kuat kepada Allah swt. dan tidak akan menyimpang dari jalan serta ketentuan-ketentuan-Nya. Dengan kelurusan dan kemantapan aqidah, seorang muslim akan menyerahkan segala perbuatannya kepada Allah sebagaimana firman-Nya di dalam surah Al-an’am yang artinya: “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku, semua bagi Allah tuhan semesta alam”. Karena aqidah yang lurus/selamat merupakan dasar ajaran tauhid, maka dalam awal da’wahnya kepada para sahabat di Mekkah, Rasulullah saw. mengutamakan pembinaan aqidah, iman, dan tauhid.
2.
Shahihul Ibadah (ibadah yang benar)
Shahihul ibadah merupakan salah satu perintah Rasulullah SAW yang penting. Dalam satu haditsnya, beliau bersabda: “Shalatlah kamu sebagaimana melihat aku shalat”. Maka dapat disimpulkan bahwa dalam melaksanakan setiap peribadatan haruslah merujuk/mengikuti (ittiba’) kepada sunnah Rasulullah saw. yang berarti tidak boleh ditambah-tambahi atau dikurang-kurangi.
Shahihul ibadah merupakan salah satu perintah Rasulullah SAW yang penting. Dalam satu haditsnya, beliau bersabda: “Shalatlah kamu sebagaimana melihat aku shalat”. Maka dapat disimpulkan bahwa dalam melaksanakan setiap peribadatan haruslah merujuk/mengikuti (ittiba’) kepada sunnah Rasulullah saw. yang berarti tidak boleh ditambah-tambahi atau dikurang-kurangi.
3.
Matinul Khuluq (akhlak kokoh)
Matinul khuluq merupakan sikap dan perilaku yang harus dimiliki oleh setiap muslim, baik dalam hubungannya kepada Allah maupun dengan makhluk-Nya. Dengan akhlak yang mulia, manusia akan bahagia dalam hidupnya, baik di dunia apalagi di akhirat. Karena akhlak yang mulia begitu penting bagi umat manusia, maka salah satu tugas diutusnya Rasulullah saw. adalah untuk memperbaiki akhlak manusia, dimana beliau sendiri langsung mencontohkan kepada kita bagaimana keagungan akhlaknya sehingga diabadikan oleh Allah swt. di dalam Al Qur’an sesuai firman-Nya di dalam surah al-Qalam yang artinya: “Dan sesungguhnya kamu benar-benar memiliki akhlak yang agung”.
Matinul khuluq merupakan sikap dan perilaku yang harus dimiliki oleh setiap muslim, baik dalam hubungannya kepada Allah maupun dengan makhluk-Nya. Dengan akhlak yang mulia, manusia akan bahagia dalam hidupnya, baik di dunia apalagi di akhirat. Karena akhlak yang mulia begitu penting bagi umat manusia, maka salah satu tugas diutusnya Rasulullah saw. adalah untuk memperbaiki akhlak manusia, dimana beliau sendiri langsung mencontohkan kepada kita bagaimana keagungan akhlaknya sehingga diabadikan oleh Allah swt. di dalam Al Qur’an sesuai firman-Nya di dalam surah al-Qalam yang artinya: “Dan sesungguhnya kamu benar-benar memiliki akhlak yang agung”.
4.
Mutsaqqoful Fikri (wawasan yang luas)
Mutsaqqoful fikri wajib dipunyai oleh pribadi muslim. Karena itu salah satu sifat Rasulullah saw. adalah fatonah (cerdas). Al-qur’an juga banyak mengungkap ayat-ayat yang merangsang manusia untuk berfikir, misalnya firman Allah di dalam surah Al-Baqarah ayat 219 yang artinya: “Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: ”pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya”. Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: “Yang lebih dari keperluan”. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir”. Di dalam Islam, tidak ada satupun perbuatan yang harus kita lakukan, kecuali harus dimulai dengan aktifitas berfikir. Karenanya seorang muslim harus memiliki wawasan keislaman dan keilmuan yang luas. Untuk mencapai wawasan yang luas maka manusia dituntut utk mencari/menuntut ilmu, seperti apa yg disabdakan beliau: “Menuntut ilmu wajib hukumnya bagi setiap muslim”. Dan menuntut ilmu yg paling baik adalah melalui majelis-majelis ilmu seperti yang digambarkan Allah swt. Di dalam surah al-Mujadilah ayat 11:“Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. Oleh karena itu Allah swt. mempertanyakan kepada kita tentang tingkatan intelektualitas seseorang, sebagaimana firman-Nya di dalam surah az-Zumar ayat 9 yang artinya: Katakanlah: “samakah orang yang mengetahui dengan orang yang tidak mengetahui?, sesungguhnya orang-orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran”.
Mutsaqqoful fikri wajib dipunyai oleh pribadi muslim. Karena itu salah satu sifat Rasulullah saw. adalah fatonah (cerdas). Al-qur’an juga banyak mengungkap ayat-ayat yang merangsang manusia untuk berfikir, misalnya firman Allah di dalam surah Al-Baqarah ayat 219 yang artinya: “Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: ”pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya”. Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: “Yang lebih dari keperluan”. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir”. Di dalam Islam, tidak ada satupun perbuatan yang harus kita lakukan, kecuali harus dimulai dengan aktifitas berfikir. Karenanya seorang muslim harus memiliki wawasan keislaman dan keilmuan yang luas. Untuk mencapai wawasan yang luas maka manusia dituntut utk mencari/menuntut ilmu, seperti apa yg disabdakan beliau: “Menuntut ilmu wajib hukumnya bagi setiap muslim”. Dan menuntut ilmu yg paling baik adalah melalui majelis-majelis ilmu seperti yang digambarkan Allah swt. Di dalam surah al-Mujadilah ayat 11:“Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. Oleh karena itu Allah swt. mempertanyakan kepada kita tentang tingkatan intelektualitas seseorang, sebagaimana firman-Nya di dalam surah az-Zumar ayat 9 yang artinya: Katakanlah: “samakah orang yang mengetahui dengan orang yang tidak mengetahui?, sesungguhnya orang-orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran”.
5.
Qowiyyul Jismi (jasmani yang kuat)
Seorang muslim haruslah memiliki daya tahan tubuh sehingga dapat melaksanakan ajaran Islam secara optimal dengan fisiknya yang kuat. Shalat, puasa, zakat dan haji merupakan amalan di dalam Islam yang harus dilaksanakan dengan kondisi fisik yang sehat dan kuat. Apalagi berjihad di jalan Allah dan bentuk-bentuk perjuangan lainnya. Oleh karena itu, kesehatan jasmani harus mendapat perhatian seorang muslim dan pencegahan dari penyakit jauh lebih utama daripada pengobatan. Meskipun demikian, sakit tetap kita anggap sebagai sesuatu yang wajar bila hal itu kadang-kadang terjadi. Namun jangan sampai seorang muslim sakit-sakitan. Bahkan Rasulullah saw. menekankan pentingnya kekuatan jasmani seorang muslim seperti sabda beliau yang artinya: “Mukmin yang kuat lebih aku cintai daripada mukmin yang lemah”.
Seorang muslim haruslah memiliki daya tahan tubuh sehingga dapat melaksanakan ajaran Islam secara optimal dengan fisiknya yang kuat. Shalat, puasa, zakat dan haji merupakan amalan di dalam Islam yang harus dilaksanakan dengan kondisi fisik yang sehat dan kuat. Apalagi berjihad di jalan Allah dan bentuk-bentuk perjuangan lainnya. Oleh karena itu, kesehatan jasmani harus mendapat perhatian seorang muslim dan pencegahan dari penyakit jauh lebih utama daripada pengobatan. Meskipun demikian, sakit tetap kita anggap sebagai sesuatu yang wajar bila hal itu kadang-kadang terjadi. Namun jangan sampai seorang muslim sakit-sakitan. Bahkan Rasulullah saw. menekankan pentingnya kekuatan jasmani seorang muslim seperti sabda beliau yang artinya: “Mukmin yang kuat lebih aku cintai daripada mukmin yang lemah”.
6.
Mujahadatul Linafsihi (Berjuang Melawan Hawa Nafsu)
Hal ini penting bagi seorang muslim karena setiap manusia memiliki kecenderungan pada yang baik dan yang buruk. Melaksanakan kecenderungan pada yang baik dan menghindari yang buruk amat menuntut adanya kesungguhan. Kesungguhan itu akan ada manakala seseorang berjuang dalam melawan hawa nafsu. Hawa nafsu yang ada pada setiap diri manusia harus diupayakan tunduk pada ajaran Islam. Rasulullah saw. bersabda yang artinya: “Tidak beriman seseorang dari kamu sehingga ia menjadikan hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa (ajaran Islam)”.
Hal ini penting bagi seorang muslim karena setiap manusia memiliki kecenderungan pada yang baik dan yang buruk. Melaksanakan kecenderungan pada yang baik dan menghindari yang buruk amat menuntut adanya kesungguhan. Kesungguhan itu akan ada manakala seseorang berjuang dalam melawan hawa nafsu. Hawa nafsu yang ada pada setiap diri manusia harus diupayakan tunduk pada ajaran Islam. Rasulullah saw. bersabda yang artinya: “Tidak beriman seseorang dari kamu sehingga ia menjadikan hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa (ajaran Islam)”.
7.
Harishun Ala Waqtihi (Disiplin Menggunakan Waktu)
Harishun ala waqtihi merupakan faktor penting bagi manusia. Hal ini karena waktu mendapat perhatian yang begitu besar dari Allah dan Rasul-Nya. Allah swt. banyak bersumpah di dalam Al Qur’an dengan menyebut nama waktu seperti ‘wal fajri’, ‘wad dhuha’, ‘wal asri’, ‘wallaili’ dan seterusnya. Waktu merupakan sesuatu yang cepat berlalu dan tidak akan pernah kembali lagi. Oleh karena itu setiap muslim amat dituntut untuk disiplin mengelola waktunya dengan baik sehingga waktu berlalu dengan penggunaan yang efektif, tak ada yang sia-sia. Maka diantara yang disinggung oleh Nabi saw. adalah memanfaatkan momentum lima perkara sebelum datang lima perkara, yakni waktu hidup sebelum mati, sehat sebelum datang sakit, muda sebelum tua, senggang sebelum sibuk dan kaya sebelum miskin.
Harishun ala waqtihi merupakan faktor penting bagi manusia. Hal ini karena waktu mendapat perhatian yang begitu besar dari Allah dan Rasul-Nya. Allah swt. banyak bersumpah di dalam Al Qur’an dengan menyebut nama waktu seperti ‘wal fajri’, ‘wad dhuha’, ‘wal asri’, ‘wallaili’ dan seterusnya. Waktu merupakan sesuatu yang cepat berlalu dan tidak akan pernah kembali lagi. Oleh karena itu setiap muslim amat dituntut untuk disiplin mengelola waktunya dengan baik sehingga waktu berlalu dengan penggunaan yang efektif, tak ada yang sia-sia. Maka diantara yang disinggung oleh Nabi saw. adalah memanfaatkan momentum lima perkara sebelum datang lima perkara, yakni waktu hidup sebelum mati, sehat sebelum datang sakit, muda sebelum tua, senggang sebelum sibuk dan kaya sebelum miskin.
8.
Munazhzhamun fi Syuunihi (teratur dalam suatu urusan)
Munazhzhaman fi syuunihi termasuk kepribadian seorang muslim yang ditekankan oleh Al-qur’an maupun As-sunnah. Dimana segala suatu urusan mesti dikerjakan secara profesional. Apapun yang dikerjakan, profesionalisme selalu diperhatikan. Bersungguh-sungguh, bersemangat, berkorban, berkelanjutan, dan berbasis ilmu pengetahuan merupakan hal-hal yang mesti mendapat perhatian serius dalam penunaian tugas-tugas.
Munazhzhaman fi syuunihi termasuk kepribadian seorang muslim yang ditekankan oleh Al-qur’an maupun As-sunnah. Dimana segala suatu urusan mesti dikerjakan secara profesional. Apapun yang dikerjakan, profesionalisme selalu diperhatikan. Bersungguh-sungguh, bersemangat, berkorban, berkelanjutan, dan berbasis ilmu pengetahuan merupakan hal-hal yang mesti mendapat perhatian serius dalam penunaian tugas-tugas.
9.
Qodirun
Alal Kasbi
(memiliki kemampuan usaha sendiri/mandiri)
Qodirun alal kasbi merupakan ciri lain yang harus ada pada diri seorang muslim. Ini merupakan sesuatu yang amat diperlukan. Mempertahankan kebenaran dan berjuang menegakkannya baru bisa dilaksanakan manakala seseorang memiliki kemandirian terutama dari segi ekonomi. Tak sedikit seseorang mengorbankan prinsip yang telah dianutnya karena tidak memiliki kemandirian dari segi ekonomi. Karena pribadi muslim tidaklah mesti miskin, seorang muslim boleh saja kaya bahkan memang harus kaya agar dia bisa menunaikan ibadah haji dan umroh, zakat, infaq, shadaqah dan mempersiapkan masa depan yang baik. Oleh karena itu perintah mencari nafkah amat banyak di dalam Al-qur’an maupun hadits dan hal itu memiliki keutamaan yang sangat tinggi. Dalam kaitan menciptakan kemandirian inilah seorang muslim amat dituntut memiliki keahlian apa saja yang baik. Keahliannya itu menjadi sebab baginya mendapat rizki dari Allah swt. Rezeki yang telah Allah sediakan harus diambil dan untuk mengambilnya diperlukan skill atau ketrampilan.
Qodirun alal kasbi merupakan ciri lain yang harus ada pada diri seorang muslim. Ini merupakan sesuatu yang amat diperlukan. Mempertahankan kebenaran dan berjuang menegakkannya baru bisa dilaksanakan manakala seseorang memiliki kemandirian terutama dari segi ekonomi. Tak sedikit seseorang mengorbankan prinsip yang telah dianutnya karena tidak memiliki kemandirian dari segi ekonomi. Karena pribadi muslim tidaklah mesti miskin, seorang muslim boleh saja kaya bahkan memang harus kaya agar dia bisa menunaikan ibadah haji dan umroh, zakat, infaq, shadaqah dan mempersiapkan masa depan yang baik. Oleh karena itu perintah mencari nafkah amat banyak di dalam Al-qur’an maupun hadits dan hal itu memiliki keutamaan yang sangat tinggi. Dalam kaitan menciptakan kemandirian inilah seorang muslim amat dituntut memiliki keahlian apa saja yang baik. Keahliannya itu menjadi sebab baginya mendapat rizki dari Allah swt. Rezeki yang telah Allah sediakan harus diambil dan untuk mengambilnya diperlukan skill atau ketrampilan.
10.
Nafi’un Lighoirihi (bermanfaat bagi orang lain)
Manfaat yang dimaksud disini adalah manfaat yang baik sehingga dimanapun dia berada, orang disekitarnya merasakan keberadaan. Jangan sampai keberadaan seorang muslim tidak menggenapkan dan ketiadaannya tidak mengganjilkan.Ini berarti setiap muslim itu harus selalu mempersiapkan dirinya dan berupaya semaksimal untuk bisa bermanfaat dan mengambil peran yang baik dalam masyarakatnya. Rasulullah saw. bersabda yang artinya: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain”.[11]
Manfaat yang dimaksud disini adalah manfaat yang baik sehingga dimanapun dia berada, orang disekitarnya merasakan keberadaan. Jangan sampai keberadaan seorang muslim tidak menggenapkan dan ketiadaannya tidak mengganjilkan.Ini berarti setiap muslim itu harus selalu mempersiapkan dirinya dan berupaya semaksimal untuk bisa bermanfaat dan mengambil peran yang baik dalam masyarakatnya. Rasulullah saw. bersabda yang artinya: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain”.[11]
Untuk meraih kriteria pribadi muslim di atas membutuhkan mujahadah dan
mulazamah atau kesungguhan dan kesinambungan. Allah swt. berjanji akan memudahkan hamba-Nya yang
bersungguh-sungguh meraih keridloan-Nya. “Dan orang-orang yang berjihad
untuk (mencari keridhaan) kami, benar- benar akan Kami tunjukkan kepada mereka
jalan-jalan Kami. dan Sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat
baik.” (QS. Al Ankabut: 69).
G. Proses
Pembentukan Kepribadian Muslim
Dalam membentuk kepribadian muslim diperlukan
beberapa langkah yang berperan dalam perubahannya, antara lain:
1.
Peran Keluarga
Keluarga mempunyai peran yang sangat besar dalam
membentuk kepribadian dalam pendidikan islam. Orang tua menjadi penanggung
jawab bagi masa depan anak-anaknya, maka setiap orang tua harus menjalankan fungsi edukasi. Mengenalkan islam
sebagai ideologi agar mereka mampu membentuk pola pikir dan pola sikap islami
yang sesuai dengan akidah dan syari’at islam.
2.
Peran Masyarakat
Masyarakat juga ikut serta dalam pembentuk kepribadian
dalam pendidikan islam karena dalam masyarakat kita bisa mengikuti organisasi
yang berhubungan dengan kemaslahatan lingkungan. Dari sini tanpa kita sadari
pembentukan kepribadian dapat terealisasi. Dalam masyarakat yang mayoritas
masyarakatnya berpendidikan, maka baiklah
untuk menciptakan kepribadian berakhlakul karimah.
3.
Peran Negara
Negara harus mampu membangun pendidikan yang mampu
untuk membentuk pribadi yang memiliki karakter islami dengan cara menyusun
kurikulum yang sama bagi seluruh sekolah dengan berlandaskan akidah islam,
melakukan seleksi yang ketat terhadap
calon-calon pendidik, pemikiran diajarkan untuk diamalkan, dan tidak
meninggalkan pengajaran sains, teknologi maupun seni. Semua diajarkan tetap
memperhatikan kaidah syara’.[12]
Ketiga peraran diatas sangat
berperan aktif dalam pembentukan kepribadian muslim karena semua saling
mempengaruhi untuk pembentukannya. Adapun prosesnya meliputi tiga tahap
pembentukan diantaranya yakni:
1.
Pembentukan Pembiasaan
Pembentukan ini ditujukan pada aspek
kejasmanian dari kepribadian yang memberi kecakapan berbuat dan mengucapkan
sesuatu, seperti puasa, sholat, dan lain-lain.
2.
Pembentukan Pengertian
Pembentukan yang meliputi sikap dan minat untuk memberi pengertian tentang
aktifitas yang akan dilaksanakan, agar seseorang terdorong ke arah perbuatan
yang positif.
3.
Pembentukan Kerohanian yang Luhur
Pembentukan ini tergerak untuk
terbentuknya sifat takwa yang mengandung nilai-nilai luhur, seperti jujur,
toleransi, ikhlas, dan menepati janji.[13]
Proses pembentukan kepribadian
muslim berlangsung secara bertahap dan berkesinambungan. Dengan demikian
pembentukan kepribadian merupakan rangkaian kegiatan yang saling berhubungan
dan saling tergantung sesamanya.
PENUTUP
A.
Kesimpulan
1.
Kepribadian
muslim merupakan identitas yang dimiliki seseorang sebagai ciri
khas bagi keseluruhan tingkah laku sebagai muslim, baik yang disampaikan dalam
tingkah laku secara lahiriyah maupun sikap batinnya.
2.
Ada beberapa
aspek dalam pembentukan kepribadian muslim diantaranya yakni aspek idiil, aspek
materiil, aspek sosial, aspek teologi, aspek duratife, aspek dimensional, dan
aspek fitrah manusia.
3.
Faktor-faktor
pembentuk kepribadian muslim ada tiga yakni: faktor biologis, faktor sosial,
dan faktor kebudayaan.
4.
Tujuan
dibentuknya kepribadian muslim salah satunya adalah agar setiap muslim mampu
mengendalikan hawa nafsu yang ada pada dirinya.
5.
Kepribadian
muslim ada dua yakni kepribadian samaai dan kepribadian kemanusiaan yang
terdiri dari kepribadian individu dan kepribadian ummah.
6.
Ada sepuluh
karakteristik yang harus dimiliki oleh seseorang agar dapat dikatakan sebagai
seseorang yang memiliki kepribadian muslim. Sepuluh karakteristik tersebut
diantaranya adalah: salimul ‘aqidah, shahihul ibadah, matinul khuluq,
mutsaqqoful fikri, qowiyyul jismi, mujahadatul linafsihi,
harishun ala waqtihi, munazhzhamun fi syuunihi,
qodirun alal kasbi, dan nafi’un lighoirihi.
7.
Dalam proses
pembentukan kepribadian muslim dibutuhkan peranan dari berbagai pihak
diantaranya keluarga, masyarakat, dan negara. Dan untuk merealisasikannya
diperlukan tiga dasar proses pembentukan diantaranya adalah: pembentukan
pembiasaan, pembentukan pengertian, dan pembentukan kerohanian yang luhur.
B. Saran
Sehubungan dengan materi yang
dibahas yakni pembentukan kepribadian muslim, hendaknya kita sebagai seorang
muslim lebih memperhatikan segala bentuk tingkah laku kita. Karena tingkah kita
adalah cerminan dari agama kita dengan kata lain setiap bertindak kita harus
berpedoman pada nilai-nilai keislaman yang terdapat dalam Al-qur’an dan
As-sunnah. Dan saran
sehubungan dengan penyusunan artikel ini, tiada gading yang tak retak dengan
kata lain artikel ini tak luput dari kekurangan. Oleh sebab itu, kami mengharapkan kritik dari berbagai pihak demi
lebih baiknya kumpulan artikel ini.
DAFTAR PUSTAKA
Ahyadi, Abdul Aziz. 2005. Psikologi Agama. Bandung: Sinar Baru Algesindo.
Djumaransjah dan Abdul Malik Karim Aminuddin. 2007. Pendidikan Islam. Malang: UIN Malang
Press.
Jalaluddin. 2001. Teologi
Pendidikan. Jakarta: Raja Grasindo Persada.
Kodir, Abdul. 2005. Filsafat
Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara.
Mujib, Abdul. 2006. Kepribadian
dalam Psikologi Islam. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Muzairi. 2009. Filsafat
Pendidikan Islam. Yogyakarta: Teras.
Nata, Abudin. 2007. Filsafat
Pendidikan Islam. Jakarta: Logos Wacana Ilmu.
Nata, Abuddin. 2013. Filsafat
Pendidikan Islam. Jakarta: Gaya Media Pratama.
Sudarsono. 2010.
Filsafat Islam. Jakarta: Rineka Cipta.
Syahminan Zaini. 2002. Prinsip-prinsip Dasar Konsepsi Pendidikan Islam. Jakarta: Kalam
Media.
Tafsir, Ahmad. 2006. Filsafat
Pendidikan Islam. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Zuhairini. 2002. Filsafat
Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara.
Fachri, Saeful. Membentuk Kepribadian
Islam, http://dakwahkampus.com/pemikiran/pendidikan/1444-pendidikan-islam-membentuk-kepribadian-islam.html.
(Diakses pada selasa 04 Oktober 2016, pukul 16:08 WIB).
[1] Jalaluddin, Teologi
Pendidikan, (Jakarta: Raja Grasindo Persada, 2001), hal. 34.
[2] Zuhairini, Filsafat
Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 2002), hal. 186.
[3] Abdul Aziz Ahyadi, Psikologi Agama, (Bandung: Sinar Baru Algesindo, 2005), hal. 53.
[4] Abdul Mujib, Kepribadian
dalam Psikologi Islam, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2006), hal. 96.
[5] Abudin Nata, Filsafat
Pendidikan Islam, (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 2007), hal. 167.
[6] Saeful Fachri, Membentuk Kepribadian Islam, http://dakwahkampus.com/pemikiran/pendidikan/1444-pendidikan-islam-membentuk-kepribadian-islam.html. (Diakses pada selasa 04 Oktober 2016,
pukul 16:08 WIB).
[7] Abdul Kodir, Filsafat
Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 2005), hal. 39.
[8] Muzairi, Filsafat
Pendidikan Islam, (Yogyakarta: Teras, 2009), hal, 62.
[9] Abuddin Nata, Filsafat
Pendidikan Islam, (Jakarta: Gaya Media Pratama, 2013), hal. 94.
[10] Ahmad Tafsir, Filsafat
Pendidikan Islam, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2006), hal. 42.
[11] Sudarsono, Filsafat
Islam, (Jakarta: Rineka Cipta, 2010), hal 57.
[12] Djumaransjah dan Abdul Malik Karim Aminuddin, Pendidikan Islam, (Malang: UIN Malang
Press, 2007), hal. 39-42.
[13] Syahminan Zaini, Prinsip-prinsip Dasar Konsepsi Pendidikan Islam, (Jakarta: Kalam
Media, 2002), hal. 51.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar